Selasa, 05 Mei 2009

Pengajaran Sastra: Beberapa Alternatif Pilihan

1. Pengantar
Selama ini pengajaran sastra di berbagai jenjang pendidikan sering dianggap kurang penting, bahkan cenderung dianaktirikan oleh para guru. Kurangnya pengetahuan dan rendahnya tingkat apresiasi sastra guru semakin memperparah kondisi tersebut. Fakta tersebut menyebabkan mata pelajaran yang seharusnya berpotensi menjadi sesuatu yang menarik dan memberi kontribusi yang cukup besar bagi para siswa disajikan hanya sebatas memenuhi tuntutan kurikulum. Sastra disajikan dengan cara yang kering, kurang hidup, tidak kreatif, dan cenderung tidak merangsang kreativitas siswa. Hal itu menyebabkan siswa kurang menyukai materi sastra yang disajikan di kelas mereka. Padahal, tujuan pengajaran bahasa dan sastra Indonesia di sekolah dimaksudkan untuk menumbuhkan keterampilan, rasa cinta, dan penghargaan para siswa terhadap bahasa dan sastra Indonesia sebagai bagian dari budaya warisan leluhur. Jadi, tugas kita semualah untuk memikirkan kelangsungan pengajaran sastra di sekolah, khususnya guru yang berhadapan langsung dengan anak didiknya di sekolah. Guru, khususnya guru bahasa dan sastra tidak hanya memberi pengetahuan, tetapi juga keterampilan dan menanamkan rasa cinta yang diimplementasikan, baik melalui kegiatan di dalam kelas maupun di luar kelas.
Makalah ini merupakan serpihan pemikiran penulis yang mencoba untuk menguraikan secara singkat mengenai pengajaran sastra dan beberapa alternatif jalan keluarnya. Ulasan ini diharapkan dapat menggugah kembali kesadaran kita untuk menempatkan pengajaran sastra Indonesia pada tempat yang layak dan sejajar dengan mata ajar lainnya.

2. Beberapa Alternatif Pilihan
Banyak pertanyaan yang muncul jika kita berbicara mengenai pengajaran sastra. Salah satunya adalah bagaimana sebaiknya sastra itu diajarkan? Itu bukan satu-satunya pertanyaan yang harus dijawab oleh para guru sastra. Hal penting yang perlu dijawab oleh para guru adalah apakah sastra itu sebenarnya? Baru kemudian muncul pertanyaan lain yang tidak kalah pentingnya, yaitu apa yang dimaksudkan dengan mengajarkan, atau dapatkah sastra diajarkan, bahkan pertanyaan menyangkut siapa saja yang hendak dibelajarkan pada sastra, perlu segera dicarikan jawabannya.
Mungkin sangat sulit mencari alternatif jawaban terhadap pertanyaan tersebut, mengingat kondisi di lapangan yang jauh dari harapan kita. Bagaimana mungkin seorang guru yang pengetahuan dan kemampuan dasarnya di bidang sastra sangat terbatas diminta untuk mengajar siswa. Bagaimana mungkin kita harapkan hasil yang maksimal dari kondisi tersebut. Sangat mustahil mengharapkan lahirnya seorang kritikus ataupun seorang sastrawan muda yang hanya dilatih dan dipandu oleh seseorang yang sama sekali tidak paham dengan sastra. Oleh karena itu, perlu kiranya kita tegaskan bahwa untuk mengajarkan sastra, seorang guru haruslah memiliki kemampuan dan pengetahuan yang sedikit lebih banyak daripada siswa. Secara sadar, seseorang telah memilih guru sebagai profesinya. Konsekuensi dari pilihan tersebut menuntut guru untuk memacu diri menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan serta keterampilan dalam bidang yang diajarkan. Seorang guru sastra hendaknya mempunyai pengetahuan dan keterampilan yang cukup dalam mengajarkan sastra. Ia hendaklah seseorang yang kreatif dan inovatif yang dengan kegigihannya berusaha memberikan yang terbaik bagi siswanya. Ketika guru telah mampu memotivasi dirinya untuk maju, saat itulah pengajaran sastra dapat berjalan dengan baik.
Peran guru sastra di dalam kelas bukan hanya sebatas mengajarkan. Ia adalah organisator fasilitator dalam pembelajaran. Untuk mendukung pembelajaran, guru bisa saja mendatangkan narasumber dari luar yang dianggap cukup berkompeten di bidang sastra. Guru dapat mengundang atau mengajak sastrawan ke sekolah pada waktu-waktu tertentu. Bahkan, jika memungkinkan, guru dapat membawa siswa ke luar sekolah mengunjungi sanggar sastra atau komunitas sastra. Bahkan, menonton pertunjukan sastra. Kesempatan tersebut dapat digunakan untuk berdialog dan berdiskusi secara langsung dengan para sastrawan. Kegiatan yang produktif tersebut secara tidak langsung dapat menumbuhkan apresiasi sastra siswa.
Banyak faktor yang mungkin menghambat kelancaran pengajaran sastra di sekolah. Selain keterbatasan kemampuan guru, ketiadan buku dan bacaan penunjang pembelajaran sastra di sekolah menyebabkan pembelajaran aspek sastra menjadi tidak berimbang dengan mata ajar lainnya. Kendala ketiadaan buku dan bahan penunjang pembelajaran yang selama ini sering dikeluhkan, sebenarnya dapat ditanggulangi. Ada beberapa cara yang dapat ditempuh untuk mengatasi persoalan tersebut, di antaranya dengan memanfaatkan media massa cetak, seperti koran, tabloid, dan majalah yang memuat karya sastra. Sekolah dapat berlangganan koran atau majalah tertentu sesuai dengan kemampuan finansial sekolah. Jika memang tidak memiliki kemampuan finansial yang cukup, sekolah dapat saja membeli koran atau majalah pada hari-hari tertentu, seperti koran hari Minggu yang biasanya sarat dengan kolom sastra. Begitu juga halnya dengan majalah. Sekolah dapat membeli majalah bulan-bulan tertentu, sesuai dengan keperluan siswa. Jika hal tersebut juga tidak dimungkinkan, guru dapat saja menugasi siswa untuk mencari secara mandiri atau kelompok teks sastra yang dimuat di koran-koran tertentu. Untuk publikasi lokal, koran Padang Ekspres, Singgalang, dan Haluan merupakan media yang dapat dimanfaatkan untuk pembelajaran sastra karena koran-koran tersebut secara rutin setiap minggu selalu menampilkan kolom sastra.
Kreativitas guru memang sangat dituntut dalam pengajaran sastra. Guru hendaknya dapat mencari solusi di tengah keterbatasan yang ada. Media apa pun sebenarnya dapat dimanfaatkan dalam pengajaran sastra. Sebagai contoh, Minangkabau kaya dengan tradisi lisannya. Tradisi tersebut masih berkembang dalam masyarakat. Guru dapat saja memanfaatkan tradisi tersebut dalam pengajaran sastra. Siswa diminta membuat rekaman tradisi lisan yang ada dalam masyarakat sekitarnya. Hasil rekaman tersebut dibawa dan dijadikan sebagai bahan diskusi di sekolah. Selain meningkatkan kreativitas siswa dalam bersastra, keterlibatan siswa dalam tradisi lokal semakin meningkatkan kedekatan siswa dengan tradisinya. Anak muda yang saat ini cenderung dekat dengan tradisi yang berasal dari luar secara tidak langsung telah dikembalikan kepada kesadaran bahwa kita pun memiliki tradisi yang tidak kalah hebatnya. Hal itu sekaligus juga memberikan pemahaman dan wawasan kepada siswa mengenai masyarakatnya.
Selain memanfaatkan tradisi lokal, guru juga dapat mengajak siswa menggunakan media elektronik dalam pengajaran sastra. Materi acara yang menampilkan pertunjukan sastra, seperti pembacaan puisi, musikalisasi puisi, teater, dan pertunjukan seni tradisi dapat dijadikan sebagai media pembelajaran. Siswa secara mandiri ataupun kelompok dapat ditugaskan untuk mencatat atau merekam acara tersebut. Hasill catatan atau rekaman dibawa ke sekolah dan didiskusikan di dalam kelas.
Media elektronik tidak hanya sebatas radio dan televisi saja. Perkembangan teknologi semakin mempermudah guru dalam melaksanakan tugas pembelajaran. Guru dapat memanfaatkan sarana internet untuk mengajarkan sastra. Dunia yang luas menjadi sangat sempit dengan internet. Informasi apa pun dapat dengan mudah diakses lewat internet, termasuk hal-hal yang berkaitan dangan sastra. Guru dapat menugaskan siswa untuk mencari informasi mengenai sastrawan tertentu atau karya-karya tertentu melalui internet. Informasi tersebut dapat dimanfaatkan sebagai media pembelajaran di sekolah. Siswa pun menjadi tertantang karena teknologi tersebut sangat mudah untuk dipahami dan juga mudah dijangkau oleh siswa. Warung-warung internet yang saat ini seperti jamur yang tumbuh di musim hujan memberi kemudahan bagi siswa untuk mengakses informasi yang mereka butuhkan. Selain itu, adanya jaringan khusus yang dibuat oleh Departemen Pendidikan Nasional, di bawah bendera Jardiknas semakin memperluas kesempatan siswa mengakses internet. Fasilitas gratis yang disediakan tersebut, yang walaupun belum menjangkau seluruh sekolah di Indonesia, sedikit banyak telah memberikan kontribusi terhadap perkembangan pembelajaran di sekolah, termasuk bidang sastra. Terpulang kepada kita, apakah akan memanfaatkan fasilitas terebut untuk meningkatkan kemampuan ataukah kita hanya akan menjadi penonton dan selamanya menjadi “katak di bawah tempurung”.

3. Penutup
Kenyataannya, masih banyak yang harus dibenahi dalam pengajaran sastra. Banyak hal yang harus dilakukan untuk menjadikan pengajaran sastra lepas dari berbagai persoalan yang melingkupinya. Kerterbatasan yang ada janganlah dijadikan sebagai alasan untuk bermalas-malasan. Kecenderungan untuk pasrah menerima kekurangan dan keterbatasan diri, keterbatasan fasilitas, dan berbagai keterbatasan lainnya sudah saatnya dibuang. Bagi para guru yang sudah telanjur memilih profesi guru sebagai jalan hidupnya, sudah saatnya untuk introspeksi diri dan membulatkan tekat untuk memperbaiki diri dan memberikan yang terbaik untuk pengajaran sastra.
Semoga catatan singkat ini menggugah kita semua dalam usaha peningkatan kualitas pengajaran sastra di sekolah. Terima kasih.

Jumat, 23 Januari 2009

Pelatihan Calon Peneliti di Cibinong

PENDIDIKAN DAN PELATIHAN FUNGSIONAL PENELITI TINGKAT I
GELOMBANG XII TAHUN 2008

Pendidikan dan Pelatihan Peneliti Tingkat Pertama Gelombang XII LIPI dilaksanakan pada tanggal 28 Agustus—17 September 2008. Pelatihan itu dilaksanakan di Pusat Pembinaan, Pendidikan, dan Pelatihan LIPI di Cibinong, Bogor, Jawa Barat. Pelatihan tersebut diikuti oleh 39 orang peserta yang berasal dari beberapa instansi, yaitu Departemen Pendidikan Nasional, Departemen Kesehatan, Departemen Pertahanan, Departemen Pariwisata, Seni, dan Budaya, dan Lembaga Administrasi Negara. Peserta dari Departemen Pendidikan Nasional berasal dari Pusat bahasa, Jakarta dan UPT daerahnya, yaitu balai bahasa. Ada 23 orang peserta diklat yang berasal dari Pusat Bahasa dan balai bahasa dari beberapa provinsi di Indonesia.
Pada kesempatan pelatihan tersebut, Balai Bahasa Padang mengirimkan enam orang calon penelitinya. Mereka adalah staf teknis yang nantinya akan diusulkan sebagai peneliti. Mereka adalah Arriyanti, S.S., Rita Novita, S.S., Daratullaila Nasri, S.S., Yulino Indra, M. Hum., Imron Hadi, M. Pd., dan Dini Oktarina, S.Pd.
Adapun mata diklat Pendidikan dan Pelatihan Fungsional Peneliti Tingkat Pertama dikelompokkan dalam materi utama dan materi penunjang. Materi utama dibagi dalam dua kelompok, yaitu
1. Internalisasi Iptek
Materi ini diberikan dengan tujuan untuk mempersiapkan peserta untuk mampu berperan dalam kedudukannya sebagai PNS peneliti, yang selalu bersikap ilmiah, kreatif, jujur, objektif, dan berwawasan luas serta mampu bekerja mandiri maupun tim. Selain itu, perserta juga dibekali informasi yang berguna dalam pelaksanaan tugasnya. Mata diklat yang termasuk dalam kelompok ini adalah sebagai berikut.
a. Pembinaan Karir
b. PNS
c. Konsep Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
d. Pengembangan Potensi Individu
e. Dampak Sosial Ekonomi Kegiatan Penelitian
f. Hak Kekayaan Intelektual
g. Outbound/ Dinamika Kelompok

2. Pengembangan Pengetahuan dan Keterampilan
Mata diklat ini dimaksudkan untuk memberikan pengetahuan dan keterampilan dasar yang diperlukan seorang peneliti dalam meniti karirnya di jabatan fungsional peneliti. Dengan bekal tersebut, kandidat peneliti/peneliti pertama akan mampu mempersiapkan peneliti mandiri dengan persiapan yang matang, melaui serangkaian proses pemilihan/penggalian ide, pemecahan permasalahan, pengunaan berbagai sumber informasi yang tersedia, pembuatan desain penelitian yang sesuai, pencarian sumber data, teknis analisis dan presentasi data. Pengetahuan dan keterampilan teknis yang diberikan pada peserta diklat ini adalah untuk dapat mendukung terlaksananya suatu penelitian yang dapat dipertanggungjawabkan hasilnya secara ilmiah. Mata diklat yang termasuk dalam kelompok ini adalah sebagai berikut.
a. Kebijakan Penelitian dan Iptek
b. Kebijakan Program Penelitian
c. Penelusuran Informasi Ilmiah
d. Pengantar dan Usulan Penelitian
e. Rancangan Penelitian
f. Sumber dan Koleksi Data
g. Pengolahan dan Analisis Data
h. Teknik dan Praktek Pengumpulan Data Lapangan
i. Teknik Penulisan Ilmiah
j. Praktek Penulisan KTI Individu
k. Teknik Presentasi
l. Presentasi KTI Individu

Selain materi utama, peserta juga diberikan materi penunjang. Materi tersebut dimaksudkan untuk membantu peserta memahami kebijakan pelaksanaan diklat dengan informasi yang berguna dalam pelaksanaan tugasnya. Mata diklat yang termasuk dalam kelompok ini adalah sebagai berikut.
a. Penjelasan Widya Riset dan Penilaian KTI, Jurnal Ilmiah/Akreditasi Jurnal Ilmiah
b. Penjelasan Teknis Penyelengaran
c. Evaluasi Program
d. Evaluasi Kemampuan Awal dan Akhir

Adapun tenaga kependidikan dan pelatihan pada Diklat Fungsional Peneliti Tingkat Pertama terdiri atas Widyaiswara, pengajar luar biasa/fasilitator, dan tenaga pendukung diklat. Tenaga kependidikan tersebut berasal dari pakar dan ahli yang bernaung di bawah bendera LIPI. Mereka tidak saja bertindak sebagai penceramah, tetapi juga sebagai pembimbing, pendamping diskusi, pemandu pendalaman materi, narasumber, moderator, penilai, penyelengara, pengamat, penuntun/fasilitator, pelatih dan tutor. Para fasilitator tersebut adalah sebagai berikut.
1. M. Bashori Imron
2. Mita Noveria
3. M. Arifin
4. Amir Asyilin Hasibuan
5. Rusydi Syahra
6. Rusdi Muchtar
7. Iroh Siti Zahroh
8. Soewartoyo
9. Jan Sopaheluwakan
10. Roy Heru Trisnamurti
11. Hery Haerudin
12. Suprapedi

Selama 21 hari peserta dibekali dengan materi, latihan, dan praktik lapangan. Selain itu, peserta juga diberikan tes awal dan ujian akhir untuk melihat tingkat kemampuan peserta sebelum dan sesudah pelatihan. Setiap mata diklat umumnya dilengkapi dengan latihan, baik mandiri maupun kelompok. Tugas-tugas tersebut biasanya dipresentasikan di depan kelas. Dari presentasi dan laporan tertulis itulah pembimbing akan memberikan penilaian yang nantinya akan dijadikan sebagai bahan pertimbangan untuk kelulusan peserta.
Tugas akhir dari peserta yang paling menentukan kelulusan adalah penulisan karya tulis ilmiah (KTI) individu dan presentasi KTI individu. Masing-masing perseta harus membuat KTI dengan bimbingan dari fasilitator yang telah ditunjuk untuk membimbing perserta. Setelah melalui beberapa perbaikan, KTI individu tersebut dipresentasikan di depan peserta, pembahas, dan pembimbing. Pembahas akan memberikan kritik, masukan, dan saran untuk perbaikan KTI tersebut. Peserta juga mengajukan pertanyaan yang berkaitan dengan karya tulis tersebut.
Pada akhir kegiatan, panitia mengumumkan peserta yang masuk dalam peringkat 10 besar. Selain itu, panitia juga mengumumkan kelulusan peserta diklat. Alhamdulillah, tingkat kelulusan tersebut mencapai 100%. Artinya, 39 orang peserta yang pengikuti pelatihan dinyatakan lulus semuanya. Yang lebih menggembirakan adalah dua orang peserta dari Balai Bahasa Padang berhasil menduduki peringkat 3, yaitu Rita Novita, S.S. dan peringkat 5, yaitu Yulino Indra, M. Hum dari sepuluh besar peserta terbaik. Mereka berhak atas piagam penghargaan dan kesempatan untuk menulis karya tulis ilmiah di jurnal Widyariset terbitan LIPI. Semua peserta juga diberikan sertifikat tanda kelulusan yang nantinya akan sangat berguna dalam pengurusan jabatan fungsional peneliti tingkat pertama.

Padang, November 2008

Kamis, 22 Januari 2009

baru bikin blog nih

Selamat datang di blog uwo. Seneng nih bisa bagi-bagi tulisan, tetapi ndak bagi duit lho. Mudah-mudahan apa yang ada di blog Uwo bisa dibaca semua orang dan bermanfaat untuk siapa saja yang mengakses blog ini. Makasih......